Selasa, 29 April 2014

PENERAPAN IFRS DI INDONESIA

A.    Pembahasan

Apa itu IFRS? IFRS  sesuatu yan berhubungan dengan akuntansi,  mari kita kenal lebih dekat apa itu IFRS Menurut situs Wikipedia IFRS didefiniskian sebagai standar dasar, pengertian dan kerangka Kerja yang diadaptasi oleh badan standar akuntansi internasional atau dalam bahasa inggris dikenal dengan International Accounting Standards Board (IASB).  IFRS sekarang ini sudah diterima secara luas oleh negara-negara di dunia. Berikut adalah pengakuan dan dukungannya :
Standar-standar tersebut digunakan oleh banyak negara sebagai dasar menyusun standar-standar akuntansi mereka atau diadopsi sepenuhnya.  Standar-standar tersebut diterima oleh banyak bursa efek dan para regulator yang mengizinkan baik perusahaan asing maupun domestik untuk menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan IFRS.Standar-standar tersebut diakui oleh masyarakat Eropa (European Community, EC) dan badan-badan supranasional lain. Pada tahun 1995, EC mengesahkan IFRS.
Secara garis besar  yang kita tahu IFRS adalah berupa standar akuntansi yang telah diakui secara internasional dan diadopsi di hampir seluruh negara. Setelah kita mengetahui apa itu IFRS sekarang kita akan membahas apakah penting IFRS di adopsi oleh INDONESIA?,  setelah melihat apa itu IFRS dan diterimanya IFRS di dunia kita dapat mengambil beberapa arti yang mengarah ke arah positif. Jika IFRS itu positif, maka INDONESIA perlu mengadopsinya ,karena sesuatu yang positif akan berdampak baik. berikut adalah manfaat Indonesia mengadopsi IFRS :

1.      Agar standar pelaporan keuangan Indonesia mendapat pengakuan yang tinggi
2.  Indonesia akan mendapatkan manfaat dari meningkatnya kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global
3.      Meluasnya pasar investasi lintas batas negara dan meningkatkan efisiensi alokasi modal
4.      Menghilangkan hambatan arus modal internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan
5.   Mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis.

Menurut pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini PSAK telah banyak berkiblat pada IAS. Lalu, perlukah Indonesia mengadopsi IAS/IFRS? Tentu saja perlu, agar standar pelaporan keuangan Indonesia mendapat pengakuan yang tinggi. Tetapi menurut Indrawijaya dalam Sunardi dan Sunyoto (2011), ada dua hal penting yang harus diperhatikan. Yang pertama, kesadaran akuntan untuk berperilaku profesional dan menjunjung tinggi etika profesi. Semakin pandai seorang akuntan, semakin berbahaya jika tidak menjunjung tinggi profesi. Yang kedua, adanya regulator yang mempunyai daya paksa terhadap semua perusahaan dan semua akuntan untuk mematuhi regulasi yang telah ditetapkan. Tanpa kekuatan pemaksa, regulasi atau aturan apapun tidak akan mempunyai manfaat dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan. Brown dan Tarca dalam Sunardi dan Sunyoto (2011) menyatakan bahwa adopsi IFRS adalah untuk meningkatkan kualitas dan daya banding informasi keuangan, namun tanpa regulatory oversight yang ketat tujuan tersebut tidak akan tercapai.


B.    Ruang Lingkup
PT. Garuda Airlines Indonesia (GA), sebuah BUMN yang beroperasi di bidang jasa penerbangan dan merupakan maskapai penerbangan terbesar di Indonesia. GA telah mengaplikasikan IFRS pada laporan keuangannya. GA telah menerapkan beberapa penerapan PSAK-PSAK tertentu yang mengacu kepada IFRS, yaitu:
-       PSAK 2 (revisi 2009), Laporan Arus Kas
-       PSAK 3 (revisi 2010), Laporan Keuangan Interim
-       PSAK 5 (revisi 2009), Segmen Operasi
-       PSAK 8 (revisi 2010), Peristiwa Setelah Periode Pelaporan
-       PSAK 12 (revisi 2009), Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama
-       PSAK 15 (revisi 2009), Investasi pada Entitas Asosiasi
-       PSAK 19 (revisi 2010), Aset Takberwujud
-       PSAK 22 (revisi 2010), Kombinasi BisnisPSAK 23 (revisi 2010), Pendapatan
-       PSAK 25 (revisi 2009), Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan
-       PSAK 48 (revisi 2009), Penurunan Nilai Aset
-       PSAK 57 (revisi 2009), Provisi, Liabilitas Kontinjensi dan Aset Kontinjensi
-       PSAK 58 (revisi 2009), Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan
-       ISAK 10, Program Loyalitas Pelanggan

C.    Kesimpulan
Penerapan IFRS sebenarnya sudah bayak dipakai di perusahaan yang sudah listing di BEI. Penerapan IFRS pada PT. Garuda Arilines Indonesia, Tbk. hanyalah salah satu dari beberapa diantaranya. Untuk perusahaan PT. Garuda Airlines Indonesia, Tbk. ini sendiri telah diadopsi secara penuh sebagai standar dalam penyusunan laporan keuangan mulai tahun 2009. Demikian, semoga bermanfaat.

Sumber :